Youtube Channels That I Love

Here’s the list, if you’re bored and want to see fresh new channels on youtube.

Fitness related channels.

  1. Yulia Batschun
  2. Sarah’s Day
  3. Natacha Oceane
  4. Joanna Soh
  5. Popsugar Fitness
  6. Fitness with PJ
  7. Fitnessblender

Motivational content

  1. Deddy Corbuzier

Financial related content

  1. Aja Dang
  2. The Financial Diet

Learning new things

  1. What I’ve Learned
  2. Vox
  3. YesReneau
  4. Kurzgesagt

International News

  1. Philip DeFranco
  2. Last Week Tonight

Korean skincare and lifestyle

  1. Joan Kim (and Joanday)
  2. Soo Beauty

Culture

  1. Asian Boss
  2. Life Where I’m From
  3. Dogen
  4. Abroad in Japan
  5. Sacha Stevenson
  6. The World of Dave

Minimalism related content

  1. Kristen Leo
  2. Lefie
  3. Sorelle Amore
  4. Matt D’Avella
  5. Pick Up Lime
  6. Brittany Vasseur
  7. Jenny Mustard
  8. Rachel Aust
  9. Sueddu
  10. Ondo

Random but entertaining

  1. Bestdressed
  2. Dina Tokio
  3. Drew Gooden
  4. Goal Guys
  5. Patricia Bright (beauty and fashion content but she’s really entertaining)
  6. The Real Daytime
  7. Sammy Robinson
  8. Gita Savitri Devi

Movie Review

  1. Cine Crib
  2. Honest Trailer
  3. Cinemasins (spoiler only)
  4. Let Me Explain (spoiler only)

Travel content

  1. Laura Reid
  2. Shu
  3. Paopao

To say that I’m addicted to youtube is an understatement. Lol.

Advertisements

Older, slower

If you’ve never seen me before, there’s a running joke that I would ask people how old I am and they’re always surprised when I said my age. Maybe that’s why I never shy from announcing my age. Setelah menjadi lebih tua, aku sadar bahwa sekarang aku lebih aware dengan kesehatanku. I like feeling good. Aku jadi tidak suka perasaan setelah minum2 diatas batas maksimalku. Aku juga tidak suka perasaan “kenyang” setelah ngemil makanan2 yang kurang sehat.

Aku sedang mengusahakan untuk olahraga setiap senin-jumat selama minimal 30 menit dan dikarenakan aku punya PCOS, aku harus lebih banyak makan sayur dan meminimalisir konsumsi karbohidrat simple seperti nasi putih. Kalau aku mengkonsumsi terlalu banyak gula, biasanya muka akan jerawatan parah dan akan lama banget sembuhnya. Aku akan merasa lebih cepat lelah dan emosi jadi naik turun seperti sedang PMS (tapi bukan saat dekat2 masa datang bulan, tiap hari!).

Aku juga menyadari bahwa lifestyleku yang ingin mengurangi materi yang tidak membuat hati bahagia (seperti kata Marie Kondo) jadi bikin aku ngerasa kayak aku lebih suka lifestyle “simple life”, “slow life”. Versi aku tentunya. Aku masih belajar jadi kayak bikin deterjen sendiri, bikin cairan pembersih sendiri, bikin sabun sendiri, keringin baju tanpa mesin pengering… ummm… I’m not there yet. Tapi aku lebih suka menikmati proses mencapai tujuan. Banyak orang yang mikir kalau mereka cuma akan bahagia kalau mereka sudah mendapatkan tujuan mereka. Sementara aku pikir, aku lebih menikmati proses untuk mencapai tujuan dan setelah tercapai tujuannya, aku malah merasa seperti ada yang hilang. Tujuannya jadi hilang.

Perasaannya agak mirip seperti kalau kita binge watch series dan setelah seriesnya selesai, kita ada perasaan “now what?

Proses mengganti lifestyle menjadi lebih aware (sadar) dengan kenapa aku melakukan sesuatu, apapun itu, membuatku lebih menikmati proses. Karena itu, aku merasa aku lebih senang menikmati segala sesuatu pelan-pelan saja. Tidak terburu-buru. Menikmati proses adalah hal yang membahagiakan.

Living With Awareness

Living with awareness artinya hidup dengan kesadaran.

Akhir-akhir ini aku sadar bahwa dulu aku hidup ”going with the flow” atau ”mengikuti arus”. Aku mengamati bagaimana orang-orang disekitarku menjalani hidup mereka dan meniru plek plek apa yang mereka lakukan tanpa mempunyai opini apapun.

Hidupku dulu sangat sederhana. Kami cukup beruntung untuk punya kulkas, tapi karena pendapatan keluargaku seadanya saja, kulkas kami tidak pernah penuh. Selalu kosong. Sementara setiap aku datang ke rumah sanak saudara, teman, atau tetangga, kulkas mereka selalu terlihat penuh. Tanpa sadar, di dalam pikiranku terdapat image bahwa kulkas yang penuh = hidup berkecukupan (karena mampu membeli makanan lebih dari yang diperlukan)

Ketika aku baru saja menikah, aku tidak pernah harus mengatur rumah tangga sehingga aku melihat bagaimana orang lain mengatur rumah tangga mereka. Aku melihat bahwa kulkas orang lain selalu penuh dan dalam pikiranku kulkas penuh = happy household.

Tapi apakah benar begitu?

Setelah pindah ke Taiwan, apartemen pertamaku super kecil. Mirip kost-kostan lah! Kulkas disediakan tapi super kecil dan cuma muat sedikit. Kebanyakan orang-orang yang tinggal di gedung apartemenku tidak pernah masak jadi mereka tidak perlu kulkas yang besar. Setelah beberapa tahun, akhirnya kami tinggal di apartemen yang cukup besar dan landlord kami menyediakan kulkas yang besar.

Lokasi apartemen kami yang sekarang dekat dengan pasar tradisional dan beberapa supermarket. Tapi kulkas kami tidak pernah benar-benar penuh. Setiap aku atau suamiku membeli bahan makanan, kami memastikan bahan makanan tersebut dipakai. Setelah menonton acara documentary tentang kebiasaan orang-orang untuk menumpuk bahan makanan di kulkas mereka, cara pikirku berubah.

Menumpuk makanan di kulkas tidak lagi menandakan mereka hidup berkecukupan, tapi menandakan bahwa mereka hidup tanpa kesadaran. Mereka tidak sadar makanan yang mereka tumpuk di kulkas sudah basi, busuk, kadaluarsa, dan/atau tidak lagi layak makan. Tidak sadar bahwa mereka sudah mempunyai bahan makanan tertentu jadi mereka terus membeli bahan makanan itu terus menerus. Tidak sadar bahwa makanan yang mereka tumpuk itu mungkin tidak baik untuk kesehatan.

Sekarang aku melihat kulkasku yang “kosong” tapi dalam pikiranku, kami bukanlah tidak berkecukupan tapi kami efisien dalam menggunakan bahan makanan dan selalu menggunakan bahan makanan yang fresh karena rotasi makanan di dalam kulkas yang cepat.

Bagaimana isi kulkasmu?

My Mom

Let me tell you about my poor mother.

Ketika aku lahir, aku terlahir sebagai anak tertua meskipun aku punya seorang kakak kandung. Kakak ibuku (tanteku) mengambil anak pertama ibuku meskipun beliau sudah mempunyai 6 anak kandung. Entah kenapa. Mungkin beliau jatuh cinta pada kakakku ketika sedang mengasuh kakakku itu. Kakakku tumbuh menjadi anak tanteku dan meskipun seluruh keluargaku tahu bahwa beliau adalah kakakku, kakakku adalah satu-satunya orang yang tidak tahu bahwa dia bukan bagian dari keluarga dimana dia dibesarkan.

Teoriku, ibuku (yang mentalnya memang sudah lemah), terpukul dengan kekecewaan terhadap dirinya sendiri karena membiarkan anak pertamanya dibesarkan oleh orang lain dan dipanggil “tante” oleh anaknya sendiri. Suaminya (papaku) pun, menyalahkan ibuku atas kejadian ini. Seakan beliau tidak cukup menyalahkan dirinya sendiri. Aku dan adikku hanya bisa diam.

Ibuku menikah dengan cara dijodohkan. Beliau kurang kenal dengan suaminya (papaku) sebelum menikah sehingga mereka berdua menjalani pernikahan tanpa rasa cinta dan kasih sayang. It really shows in how they interact with each other. Tentunya, banyak pasangan yang menikah dengan cara dijodohkan dan banyak juga yang jatuh sayang pada pasangan mereka dengan waktu. Tapi sayangnya tidak demikian dengan orang tuaku.

Ibuku yang malang, menjalani pernikahan tanpa dukungan dari suaminya. Anak-anaknya tidak bisa dibilang sebagai anak-anak yang baik dan penurut. Aku dan adikku tumbuh menjadi anak middle class yang manja karena kami merasa orang tua kami tidak terlalu menaruh perhatian pada kami. Mereka lebih fokus pada dirinya sendiri. Aku tidak terlalu sadar bagaimana perasaan ibuku karena aku dulu terlalu fokus pada diriku sendiri. Khas remaja yang sedang mencari jati diri.

Sebagai seorang dewasa, aku sering merenung bagaimana ibuku menjalani hidupnya dan seringkali merasa kasihan. Kasihan ibuku yang malang yang tidak punya back bone untuk membela diri sendiri. Aku sering merasa kenapa ibu dan bapakku tidak cerai saja? Kenapa mereka menyiksa diri sendiri dalam pernikahan yang bagaikan neraka? Aku merasa mereka melakukan ini demi kami, anak-anaknya, meskipun kami tidak menuntutnya. Mungkin ibuku merasa kami, anak-anaknya, tidak boleh hidup seperti dirinya dulu yang hidup menumpang di sanak saudara karena ibunya tidak sanggup membesarkannya di kampung. Mungkin ibuku tidak mau kami di diskriminasi atau dikasihani sebagai anak dari broken family, biarpun rasanya sudah seperti di dalam keluarga yang broken biarpun kami tinggal di bawah satu atap.

Mungkin ibuku merasa seperti tidak ada jalan lain. Ini hanyalah satu-satunya jalan hidup yang bisa dijalaninya. Hanya ini.

Kasihan ibuku yang malang. Aku sebagai anak tidak bisa memberikan perhatian yang pantas baginya karena aku sibuk mencari uang sebagai tulang punggung dan risih diberikan tekanan untuk menikah sebagai anak “tertua”.

Setelah beliau tiada beberapa minggu yang lalu, aku terkadang memikirkan betapa malang ibuku. Betapa sulit hidupnya. Tapi terkadang aku merasa beliau “memilih” untuk menjalani hidup yang dijalaninya. Sebagai manusia, kita selalu diberikan pilihan. Biarpun kita merasa hidup bagaikan tanpa pilihan lain; kenyataannya, kita selalu diberikan pilihan. Pilihan yang begitu sulit, kebanyakan orang memilih hidup yang memilih untuk mereka, daripada memilih sendiri jalan yang akan mereka lalui.

Menilik balik ke masa laluku, aku lega telah memilih jalan hidup yang kujalani sekarang. Sesulit apapun itu, aku telah memilih jalan hidup yang berbeda dengan ibuku.

Ibuku yang malang. Aku tidak akan memilih jalan yang sama denganmu, mama. Tapi aku akan terus mengenangmu. Selamat jalan. Semoga mama tidak lagi merasa kesepian di sana.

45765_1520059612236_3765416_n

An Awakening Moment

RereChan

An Awakening Moment itu dalam bahasa Indonesia artinya saat tersadarkan. Gw baru aja selesai nonton sebuah youtube video tentang plastik dan betapa di supermarket belakangan ini sampah plastik semakin menjadi-jadi. Gw tinggal di Taiwan dan cukup bangga dengan kesadaran orang Taiwan untuk daur ulang dan kesadaran para warganya tentang pentingnya daur ulang dan memisahkan sampah. Sebegitu pentingnya kesadaran warganya sampai jika gw sampai lupa untuk memisahkan sampah, gw akan kena denda. Lumayan mahal juga dendanya; NTD 1.000 (kurang lebih IDR 450.000).

Setelah 2 tahun lebih tinggal di Taiwan, gw tersadarkan betapa penuh sampahnya supermarket mereka. Supermarket di lokasi tempat gw tinggal sangatlah convenient (dekat dari rumah). Tinggal jalan kaki 2 menit sudah sampai di supermarket. Biarpun harga groceriesnya lebih mahal daripada ke pasar, karena kemalasan gw, gw jarang sekali pergi ke pasar dan hanya belanja bahan makanan dari supermarket. Setiap jenis sayur terbungkus plastik. It’s. Crazy. What the…?!

19990052_10211067956388368_6294133977771968411_n

Seingat gw…

View original post 176 more words

An Awakening Moment

An Awakening Moment itu dalam bahasa Indonesia artinya saat tersadarkan. Gw baru aja selesai nonton sebuah youtube video tentang plastik dan betapa di supermarket belakangan ini sampah plastik semakin menjadi-jadi. Gw tinggal di Taiwan dan cukup bangga dengan kesadaran orang Taiwan tentang lingkungan dan kesadaran para warganya tentang pentingnya daur ulang dan memisahkan sampah. Sebegitu pentingnya kesadaran warganya sampai jika gw sampai lupa untuk memisahkan sampah, gw akan kena denda. Lumayan mahal juga dendanya; NTD 1.000 (kurang lebih IDR 450.000).

Setelah 2 tahun lebih tinggal di Taiwan, gw tersadarkan betapa penuh sampahnya supermarket mereka. Supermarket di lokasi tempat gw tinggal sangatlah convenient (dekat dari rumah). Tinggal jalan kaki 2 menit sudah sampai di supermarket. Biarpun harga groceriesnya lebih mahal daripada ke pasar, karena kemalasan gw, gw jarang sekali pergi ke pasar dan hanya belanja bahan makanan dari supermarket. Setiap jenis sayur terbungkus plastik. It’s. Crazy. What the…?!

19990052_10211067956388368_6294133977771968411_n

Seingat gw, dulu bahan makanan tidak selalu terbungkus plastik. Entah sejak kapan plastik menjadi simbol dari higienitas. Harap diingat bahwa hanya karena wortel anda dibungkus plastik, bukan berarti wortelnya akan otomatis lebih higienis atau sehat. Yang ada mungkin jadi lebih mahal karena cost of production ditambah dengan dibungkus plastik. Belum lagi dengan dibungkus plastik, kita hanya bisa membeli sejumlah yang dibungkus tersebut yang biasanya akan jatuhnya lebih mahal.

Di tahun 2019 ini, gw akan menjadi lebih sadar/conscious tentang plastic waste gw. Gw akan membuat lebih banyak effort untuk belanja di pasar sesuai kebutuhan gw dan selalu membawa kantong/tas sendiri untuk mengurangi waste. Gw menghargai effort (usaha) warga Taiwan untuk mengurangi konsumsi plastik. Semua toko sekarang mengharuskan pelanggannya untuk membayar ekstra untuk kantong plastik tapi dengan banyaknya hal yang dibungkus plastik, rasanya agak redundant aja.

Reduce plastic = more effort. Itu yang sudah pasti. Kalau gw bersedia untuk put more effort into my life, pasti gw akan bisa mengurangi konsumsi plastik gw secara drastis. I would encourage all my readers to do the same. Semua dimulai dari diri sendiri.

203188-675x450-garbage-at-landfill

Budgeting

Talking about money (di blog post sebelumnya), gw jadi pengen nanya… apakah kalian punya budgeting?

black point and shot camera near macbook pro

Budgeting intinya adalah mengatur uang yang kalian punya untuk mencukupi semua kebutuhan hidup dan mencapai financial goal. Kalau kata financial advisor, punya financial goal itu harus! Soalnya kita harus termotivasi untuk nabung dan satu-satunya cara untuk punya motivasi adalah kalau kita punya goal atau target. Dulu, gw jarang banget nabung kemungkinan besar adalah karena gw gak punya gol atau target tertentu. Gw ga kepikiran untuk beli rumah atau mobil, investasi di ini, itu, dll.

I save to spend. Gw menabung, untuk dihabiskan.

Gw nabung, untuk beli baju sebanyak-banyaknya pas lebaran (pas diskon gede-gedean). Gw nabung, untuk traveling ke Makassar. Gw nabung, untuk traveling ke Bangkok. Gw nabung, untuk traveling sekeluarga ke Yogya. Gw nabung, untuk travel ke UK bareng calon suami. Gw nabung, untuk biaya resepsi (kenapa gw ga seberani Suhay Salim? T_T).

Jadi selesai tercapai tujuan finansial gw, ya gw mulai lagi dari nol. Kesannya kayak kurang dewasa ya? Namanya juga dulu gw hidup tanpa kesadaran hahaha. Apa yang orang lain lakukan, gw ngikut. Dulu karena gw single, uang gw habis untuk lifestyle dan traveling. Dalam pikiran gw, setelah menikah, nabung akan untuk DP rumah, setelah itu DP mobil, lalu hidup bergelimang dalam cicilan. Just like all of everyone else.

Ternyata takdir menyatakan bahwa jalan hidup gw agak berbeda. Hidup di Taiwan, membuat gw dan suami tidak tertarik untuk punya mobil atau beli rumah (karena kami tidak tahu akan berapa lama kami tinggal di Taiwan). Belum punya anak sehingga prioritas hidup kami berbeda dengan orang lain yang tentunya sudah punya anak. Financial goal kami gak jauh-jauh dari traveling (karena belum punya anak, gak punya peliharaan). Tapi biaya hidup di Taiwan tentunya tidak murah dan kami punya financial goal untuk traveling dan punya dana darurat.

Cara gw dan suami budgeting adalah: bayar semua kewajiban di awal. Tentukan budget untuk bayar semua tagihan di awal, tentukan jumlah yang akan masuk rekening tabungan (terpisah dari rekening yang akan digunakan sehari2), lalu sisanya adalah budget biaya hidup sehari-hari. Cukup tidak cukup, harus cukup.

black calculator near ballpoint pen on white printed paper

Mungkin untuk orang lain, cara budgeting ini tidak sesuai dengan lifestyle atau kondisi keuangan mereka. Gw saranin untuk baca-baca buku atau artikel tentang budgeting, nonton acara Suze Orman di CNBC (kalau punya indovision dan ngerti bahasa Inggris soalnya CNBC gak pake subtitle), atau nonton video-video di YouTube tentang budgeting. Banyak sumber informasi di internet, tinggal di google aja kok.

Apa financial goal kalian untuk tahun 2019?